Apakah lebih baik kita selalu bersifat apatis dan skeptis serta agresif?
(lagi2) Masyarakat menunjukkan rasa kecewanya terhadap kinerja pemerintah (yang menjabat) dengan merencanakan unjuk rasa disegala tempat yang mereka rasa akan mendapatkan perhatian terbanyak, dan tak jarang menimbulkan keresahan dan kerusuhan di tengah-tengah publik. Mereka pun menyatakan keinginannya agar mereka (SBY-Boediono) untuk turun dari jabatannya sebagai presiden dan wapres. Dengan melontarkan julukan-julukan seperti "Penghianat Bangsa" dan "Tak Mampu Menjadi Pemimpin", hal ini dikarenakan mereka (para demonstran) merasa duo tersebut beserta kabinetnya telah gagal membuahkan hasil dari program 100 hari mereka.
Bagaimana jika kita sekali-sekali lebih supportif dan korektif namun tetap terbuka pada berbagai kemungkinan?
Apakah 100 hari emang cukup untuk membuktikan kemampuan seseorang?
Saya pun bertanya pada diri sendiri,
Apakah mereka yang terlibat dalam aksi-aksi unjuk rasa tersebut benar-benar memahami permasalahan yang melahirkan tuntutan-tuntutan itu?
Bagaimana dengan konsekuensi yang dapat timbul?
Sudahkah "masalah" ini dilihat dari berbagai sudut dan aspeknya?
Atau apakah mereka telah menelan mentah-mentah ucapan dan provokasi tertentu dan mengikuti nafsu mereka untuk bertindak?
Apakah mereka menawarkan solusi?
Meminta seorang presiden untuk turun dari jabatannya. In this country, it's been done before. Dan dulu hal tersebut dilakukan karena dianggap akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik (kata para demonstran saat itu). Namun kalau kita bercermin sekarang, apakah hal tersebut benar? Apabila keadaan sudah lebih baik, mengapa kita tetap harus berdemonstrasi? Haruskah kita terus-terusan berulang kali merasa kurang terhadap sosok yg memimpin negri ini? Ingat, ini bukan pertama kalinya rakyat merasa kecewa dan meminta pemimpin diganti, dan hal tersebut telah beberapa kali dikabulkan. Namun apakah kita sebagai masyarakat telah merasa puas?
Bagaimana jika kita memikirkan cara lain untuk menciptakan perubahan?
Change will not happen if you ask for it. Change will happen if you take part to make it happen. It's not about your theories and how much data you've acquired about certain failures. Change is how you turn words into action that benefits more than just a group of people (that is if you aim a change for the better).
Pemerintah dan masyarakat seharusnya saling berdampingan, saling memantau dan koreksi. Ciptakan sebuah sistem yang harmonis dan fungsional namun tidak agresif. Pressure can cause leaks that holds up the flow of things, and maintenance requires time. Time is too precious to waste because as John Mayer says "there is no substitution for time".
Bangsa ini tidak membutuhkan sosok yang mengumbar-umbar apa definisi kebenaran bagi mereka atau yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin, karena hal tersebut tidak membuktikan apa-apa. Namun, lebih pada tempatnya apabila seseorang tersebut akan lebih melihat segala sesuatu dari berbagai sudut, melakukan perancangan sebuah solusi yang aplikatif dan kemudian mewujudkan idenya tersebut dengan tujuan dapat bermanfaat bagi masyarakat lainnya.Melakukan orasi dengan harapan menciptakan perubahan besar bagi seluruh rakyat indonesia? Apakah itu yg dibutuhkan seluruh rakyat dan apakah mereka semua siap untuk perubahan tersbut? ambisius atau naif?
Perubahan tidak harus mengenai kuantitas. Seringkali perubahan pada negri ini ikut serta menggeser nilai kualitas. Dan apabila perubahan kerap terjadi dan terus menerus menggeser kualitas, kapankah nilai kualitas tersebut akan meningkat? Perubahan dalam sebuah skala yang lebih kecil dapat lebih melekat pada mereka yang berada didalam diameter perubahan tersebut karena lebih akuntabel. A leader who comes from a small community gains loyalty to and from their community, therefore are more inspired for changed rather than desired.
catatan : Apakah saya pro pemerintah? Tidak. Apakah saya anti pemerintah? Tidak. Saya
mungkin termasuk diantara mereka yang dianggap kaum tak berpendirian alias netral atau
golput. Bukan berarti tidak peduli. Saya akan mendukung segala kegiatan yang saya anggap akan berefek positif, dan berusaha mengembangkannya agar dapat menimbulkan efek jangka panjang dan turun menurun. Namun apabila ada suatu keburukan atau kejanggalan, saya akan pelajari dulu, cerna baik-baik dan ciptakan teori/solusi yang bisa dituangkan. Saya tidak mau menjadi orang yang berkoar-koar untuk perubahan dan menunjuk segala kekurangan namun setelah melempar batu sembunyi tangan. Atau setelah itu, mendapatkan apa yang saya tuntut, tidak tau mesti bagaimana lagi dan tidak dapat mempertanggung jawabkan aksi saya dengan memberikan hasil yang lebih baik daripada sebelumnya.



0 komentar:
Posting Komentar