YES! It's bi-lingual!

As cultures interact, shifts may occur within its body. Trying to point out the importance of unnecessary language mixes, the articles will be presented in Bahasa Indonesia and English for your reading convenience.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 02 Maret 2010

March!

Self service drinks and very bright flourescent lights. Is that all?

There's a "recently" popular plague of 7eleven convenience stores in Jakarta that's causing new traffic jams and creating a new cultural dilemma. And all it took for it to catch our attention was its blindingly bright lights.

The fact is, 7eleven is no new-comer. It has been in the convenience store industry for quiet a while, with its first Jakarta outlet opened about 15 years ago. Thus calling it new is slightly improper.

So what is with the sudden excitement and frenzy about? If we take a few steps backwards, we'll remember that the convenience store business was not as promising in Jakarta as it looks today. My guess is probably because of our life style, consumption behaviour, culture, and our brand awareness was still purely eastern. With the media and outside communication still minimal, the refrences we have of other ways of life was still a bit monotonous. Indonesian still relied on traditional markets, local grocery stores (monopoly also might have played a major role in limiting the amount of foreign corporates capitalizing) and famous street vendor. Our consumption behavior was still root-strong. For example, primarily we eat rice just like most of Asian people. Thus up to the 1990's, fast food chains didn't grow as excessively as they do today. we had a Burger King opened in Plaza Indonesia once, but since they served burgers and we didn't eat as much red meat and bread back then, the franchise closed around '97. McD, A&W, and KFC however managed to survive because they made adjustments to their menu and served rice.

Convenience is not a new concept in Indonesia's commodity services. We had street vendors since the day I was born. You can practically get anything and everything from a toserba or a warung on your street corner. The prices are slightly higher but economical considering the convenience of not having to wait in long lines and driving a distance more than 500meters. But around 2006, a sudden burst of circle K (C-K) outlets brought on a new form of convenience, one with international standards, products, and a well developed brand identity. A better looking store as well, complete with refrigerator and AC. To spice things for consumers, C-K offered 24 hours of convenience which Jakarta didn't have much at the time. And the plague of circle K stores began.

It's growth has become ridiculous, sometimes, to see C-K outlets opened so close from one another. On one street, you can spot 3-4 C-K's only 400 meters from each other.

And these international brand bumped out the traditional convenience stores. Though the prices are highers, consumers didn't seem to mind paying the extra cost for a little taste of modern pleasure, and perhaps a touch of class and prestige.

So, as I sat in my 4th visit to 7eleven and gulped down my Slurpee, I watched as the automatic doors opened and barely stayed closed for more than 1 minute. Teenagers, college students, working men and women cash out. The fact that the food tastes like any other and that the Slurpee is simply soda blended with crushed ice (it doesn't even compare to the classic Icee) wasn't that big of a reason for people to enjoy shopping in convenience stores.


How much has our culture progressed since then? We now live in a dense society where instant service and t lcd-tube lifestyle is society's new magnetic pole. is it a natural act of change where along with consumption behavior, our mind set and economic status has risen, or a forced unvoluntary attack?


Rabu, 27 Januari 2010

Change of Act

Apakah lebih baik kita selalu bersifat apatis dan skeptis serta agresif?
Bagaimana jika kita sekali-sekali lebih supportif dan korektif namun tetap terbuka pada berbagai kemungkinan?
(lagi2) Masyarakat menunjukkan rasa kecewanya terhadap kinerja pemerintah (yang menjabat) dengan merencanakan unjuk rasa disegala tempat yang mereka rasa akan mendapatkan perhatian terbanyak, dan tak jarang menimbulkan keresahan dan kerusuhan di tengah-tengah publik. Mereka pun menyatakan keinginannya agar mereka (SBY-Boediono) untuk turun dari jabatannya sebagai presiden dan wapres. Dengan melontarkan julukan-julukan seperti "Penghianat Bangsa" dan "Tak Mampu Menjadi Pemimpin", hal ini dikarenakan mereka (para demonstran) merasa duo tersebut beserta kabinetnya telah gagal membuahkan hasil dari program 100 hari mereka.

Apakah 100 hari emang cukup untuk membuktikan kemampuan seseorang?

Saya pun bertanya pada diri sendiri,
Apakah mereka yang terlibat dalam aksi-aksi unjuk rasa tersebut benar-benar memahami permasalahan yang melahirkan tuntutan-tuntutan itu?
Bagaimana dengan konsekuensi yang dapat timbul?
Sudahkah "masalah" ini dilihat dari berbagai sudut dan aspeknya?
Atau apakah mereka telah menelan mentah-mentah ucapan dan provokasi tertentu dan mengikuti nafsu mereka untuk bertindak?

Apakah mereka menawarkan solusi?
Meminta seorang presiden untuk turun dari jabatannya. In this country, it's been done before. Dan dulu hal tersebut dilakukan karena dianggap akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik (kata para demonstran saat itu). Namun kalau kita bercermin sekarang, apakah hal tersebut benar? Apabila keadaan sudah lebih baik, mengapa kita tetap harus berdemonstrasi? Haruskah kita terus-terusan berulang kali merasa kurang terhadap sosok yg memimpin negri ini? Ingat, ini bukan pertama kalinya rakyat merasa kecewa dan meminta pemimpin diganti, dan hal tersebut telah beberapa kali dikabulkan. Namun apakah kita sebagai masyarakat telah merasa puas?

Bagaimana jika kita memikirkan cara lain untuk menciptakan perubahan?
Change will not happen if you ask for it. Change will happen if you take part to make it happen. It's not about your theories and how much data you've acquired about certain failures. Change is how you turn words into action that benefits more than just a group of people (that is if you aim a change for the better).

Pemerintah dan masyarakat seharusnya saling berdampingan, saling memantau dan koreksi. Ciptakan sebuah sistem yang harmonis dan fungsional namun tidak agresif. Pressure can cause leaks that holds up the flow of things, and maintenance requires time. Time is too precious to waste because as John Mayer says "there is no substitution for time".

Bangsa ini tidak membutuhkan sosok yang mengumbar-umbar apa definisi kebenaran bagi mereka atau yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin, karena hal tersebut tidak membuktikan apa-apa. Namun, lebih pada tempatnya apabila seseorang tersebut akan lebih melihat segala sesuatu dari berbagai sudut, melakukan perancangan sebuah solusi yang aplikatif dan kemudian mewujudkan idenya tersebut dengan tujuan dapat bermanfaat bagi masyarakat lainnya.

Melakukan orasi dengan harapan menciptakan perubahan besar bagi seluruh rakyat indonesia? Apakah itu yg dibutuhkan seluruh rakyat dan apakah mereka semua siap untuk perubahan tersbut? ambisius atau naif?
Perubahan tidak harus mengenai kuantitas. Seringkali perubahan pada negri ini ikut serta menggeser nilai kualitas. Dan apabila perubahan kerap terjadi dan terus menerus menggeser kualitas, kapankah nilai kualitas tersebut akan meningkat? Perubahan dalam sebuah skala yang lebih kecil dapat lebih melekat pada mereka yang berada didalam diameter perubahan tersebut karena lebih akuntabel. A leader who comes from a small community gains loyalty to and from their community, therefore are more inspired for changed rather than desired.

catatan : Apakah saya pro pemerintah? Tidak. Apakah saya anti pemerintah? Tidak. Saya
mungkin termasuk diantara mereka yang dianggap kaum tak berpendirian alias netral atau
golput. Bukan berarti tidak peduli. Saya akan mendukung segala kegiatan yang saya anggap akan berefek positif, dan berusaha mengembangkannya agar dapat menimbulkan efek jangka panjang dan turun menurun. Namun apabila ada suatu keburukan atau kejanggalan, saya akan pelajari dulu, cerna baik-baik dan ciptakan teori/solusi yang bisa dituangkan. Saya tidak mau menjadi orang yang berkoar-koar untuk perubahan dan menunjuk segala kekurangan namun setelah melempar batu sembunyi tangan. Atau setelah itu, mendapatkan apa yang saya tuntut, tidak tau mesti bagaimana lagi dan tidak dapat mempertanggung jawabkan aksi saya dengan memberikan hasil yang lebih baik daripada sebelumnya.

Minggu, 03 Januari 2010

Petasan dan tiupan terompet secara maksimal serta sorakan orang-orang yang tidak jelas apa yang diucapkan menandakan pergeseran 2009-2010. satu menit kemudian, hening dan kembali menikmati percakapan yang tenang ditemani secangkir hangat minuman berkafein.

Memasuki 2008 saya merayakannya dengan mengadakan roadtrip ke Jogja naik mobil beramai-ramai.
Perpindahan 2008 ke 2009 cukup dengan menikmati film Australia dibioskop, kemudian dilanjutkan dengan kumpul-kumpul santai di rumah teman di Bintaro.

Untuk menutup 2009 saya isi dengan kegiatan yang tidak bisa lepas dari diri saya, yaitu musik, kuliner, pertemanan, dan travelling. John Mayer, Temper Tramp, The Smiths dan "Here Comes Your Man" oleh the Pixies telah menjadi musik pengiring kami menutup tahun.

Memasuki tahun ini, saya kembali merasa seperti remaja; tentunya tanpa gangguan jerawat, suara pecah, kumis tipis, serta hormonal issues lainnya yang disebut masa puber. Segar, riang, penuh rasa penasaran dan semangat hidup mengejar cita-cita dan menguji ide-ide "cemerlang" di kepala saya di tahun 2010 ini yang diharapkan menjadi awal mula segala suatu kisah dan kesuksesan masa depan.

Secara singkat dan tanpa titik (kecuali pada akhir kalimat ini) akan saya rinci kegiatan menyambut tahun baru kemarin dimulai dengan Bandung, Bumi Sangkuriang, menyaksikan The Ingredients, menikmati pertemanan di Roemah Kopi, merekam malam itu dengan Polaroid, berpisah dan bertemu teman lain di McD, perjalanan 6 jam berangkat pukul 4 pagi, Ciamis, Pangandaran, rumah nasi Porkot, Green Canyon, Batu Karas yang ramai dan kotor, duit habis, hp mati semua, Ciamis, rumah makan padang Minang Mangkau, Bandung, SetraSari, Gegerkalong, terjebak macet menuju Dago atas, warung masakan Aceh, Roemah Kopi (lagi), muter-muter Bandung Selatan gak jelas, Punclut, ayam goreng paha, panorama kota Bandung dimalam hari, menemukan objek taruhan taruhan pertama di tahun ini, Padalarang, Cipularang, Cikampek, Empang Tiga, cuci mobil, sate padang Ajo Ramon, Bintaro, Pulo Gadung, Empang Tiga, pulang sampai rumah, tidur, bangun-bangun sudah tanggal 4 Januari 2010.

(maaf apabila banyak penyebutan brand)

Desember tanggal 31 2009 ini berarti satu tahun sudah saya lewati dan kini menjadi bahan renungan untuk menghindari kesalahan yang sama, memperbaiki segala kekurangan, dan mengisi segala bidang yang kosong ditahun yang akan datang.

Walaupun mungkin tahun 2009 tidak kita tutup bersama, namun saya harap kalian pun melewatinya dengan orang-orang terdekat dan tersayang dan telah menjalani tahun yang berarti. Semoga 2010 menjadi tahun yang akan membuka lebar kesempatan kita untuk berkumpul kembali.

Untuk itu, terimakasih kepada band the Ingredients (lihat myspace mereka), yang telah membawakan lagu-lagu yang mengingatkan saya pada musik yang dimainkan oleh President of The United State dan membawa saya kembali pada dekade 1990.

Terima kasih pada alam indah dan tidak begitu indah Pangandaran, Green Canyon, Batu Karas, Ciamis, Dago dan mereka yang berada didalamnya seperti Mas Ai, Mas Agus dan kawan-kawan yang menjadi sumber inspirasi dan kritik diri sendiri serta meyakinkan saya untuk melakukan sesuatu yang berarti untuk orang banyak dan Indonesia akan menjadi lebih baik.

Terima kasih pada aneka ragam makanan dan minuman yang menjadi bahan konsumsi saya selama perjalanan.

Terima kasih kepada teman-teman yang hadir menemani malam itu yang telah berbagi cerita, tawa, pikiran dan rencana-rencana sehingga menciptakan cerita baru tersendiri yang mungkin akan kita ceritakan kembali kelak.

Terima kasih teman-teman yang telah datang dan pergi sepanjang 2009. Kehadiran kalian memberi makna dan inspirasi hidup saya.

Dan terima kasih 2009. Saya merangkum dirimu dengan kalimat "ciptakan musuh baru, hubungkan diri kembali pada teman-teman dan masa lalu".

Wake up, it's 2010! Kita harus merasa lebih hidup daripada hidup itu sendiri. Caranya? Klo kata orang bule, "Do the things that make you feel alive".

Cheers and Love.