Kamis, 02 Juli 2009

Aku Orang Indonesia


Saat lagi mengendarai sepeda motor gw hari ini, gw tiba-tiba menyadari bahwa gw sangat lah orang Jakarta. Perilaku, pola pikir, kebiasaan, serta manajemen waktu gw tanda-tanda gw ini bukan sekedar (istilah beken saat ini) orang urban. Kalau didaftarin, kurang lebih seperti ini :


  • Bangun kesiangan, karena sudah tau akan telat, malah lebih santai karena berfikiran “yah, ud telat ini, mending sekalian aja telatin dikit lagi.
  • Menambah kecepatan pada saat lampu lalu lintas sudah kuning dan kadang menerobos lampu merah pura-puranya gak liat.
  • Mengklaksoni (istilahnya tepat gak tuh?) pengemudi lain yang lelet, belok gak pake lampu sign, belok kiri atau ingin lurus padahal mereka masuk lajur busway, bis-bis yang menurunkan penumpang di jalur tengah bahkan kadang paling kanan dan pengemudi-pengemudi lainnya yang gw rasa perlu dklaksonin karena merugikan orang banyak atau (kebetulan) yang nyetirnya agak attractive. Hehe.
  • Mengeluhkan kemacetan lalu lintas, padahal gw juga merupakan salah satu penyebab jalan raya begitu padat
  • Mencari jalan pintas sehingga kadang menghalalkan segala cara untuk mempermudah perjalanan, seperti naik ke atas trotoar
  • Adu bacot dan saling menatap dengan sinis dengan pengemudi lain yang dianggap gak becus bawa kendaraannya.

Kira-kira begitulah gw saat lagi di jalan. Itu masih mending dibandingkan dengan kalau lagi ada kecelakaan atau kejadian yang bikin heboh, pasti sebagian besar pengemudi motor harus berhenti untuk melihat dan menyimak atau setidaknya melaju dengan amat lambat. Emang gak selalu begitu, kadang ad hari-hari sabarnya juga, tapi pasti ada hari-hari dimana kesabaran gak bisa dibendung.

Dan menurut gw, itu udah menjadi pola dan karakter hidup orang Jakarta. Egois dan tergesa-gesa serta tak kenal kata salah, kreatif mencari jalan keluar walaupun merugikan orang lain yang penting doi enak, dan jiwa jagoan namun bonek. Yang kadang gw, dan mungkin sebagian besar orang Jakarta lupakan adalah hidup dan pola pikir serta karakter diri kita sebagai Orang Indonesia. Klo kata buku-buku PPKn (PMP, Kewarganegaraan, atau apa-lah sebutannya sekarang) nilai leluhur bangsa Indonesia antara lain gotong royong, disiplin, ramah tamah, dan satu saudara. Satu saudara. Sedangkan kalau dilihat sekarang, agaknya kita lebih sering merugikan sesama. Mengutamakan kepentingan dan kenyamanan diri sendiri hanya karena kondisi yang kurang berpihak pada kita hari itu. Serta menodai kedisiplinan dan merendahkan makna hukum yang, dalam jangka panjang, akan menciptakan jiwa yang liar dan kebal pada hukum dan memupuk hukum rimba.

Bukannya gw sok-sok-an nasionalis atau menjadi orang yang paling benar, namun gw baru saja teringat bahwa gw sendiri belom menjadi seorang warga Jakarta yang baik, sabar, atau disiplin apa lagi kalau ditanyakan "apakah gw sudah menjadi Orang Indonesia yang dapat menjadi suatu contoh yang baik bagi orang lain, sesuai nilai-nilai tersebut?"


* * * * * * *

title : I am Indonesian

While I was riding my motorcycle today, I suddenly realized that I am truly a Jakartan (a Jakarta native). My behaviour, train of thought, habit, and time managment are signs that I am not just another urban person (I think that's the popular term these days). If I pointed them out, more-or-less it's something like this :
  • Woke up late and rather than rush my self to get ready, I enjoy the morning because my thoughts were "I'm already late, why bother try to make it on time?"
  • Accelerate when I spot a yellow traffic light and sometimes drive through a red-light and pretend I didn't see the light.
  • Honk at other drivers that's too slow, made turns without giving any sign, trying turn left or drive straight forward from the busway lane, busses that drop-off passengers in the middle or in the far right lane, and those other commuters that I felt I had to honk at because either they were selfish or the person driving was attractive. Haha.
  • Complained about traffic when at the time I was also part of the reason traffic was so packed.
  • Looked for short-cuts that tend to erase the border line between wrong and right, like ride on the sidewalk.
  • Argued and shared cynical eye contact with another driver that I felt idiotic behind the wheel and drove like a lunatic.

More-or-less, that's how I am/was on the road. That's nothing compared to motorcyclers when there's an accident or an interesting occurance on the road that they felt they had to stop and observe the event as it unfolds, if not stop, they ride real slow. It's not always like that, but there are days when patience can no longer be concealed.

And in my opinion, that has become the train-of-thought and character of Jakartans. Egotistic and always in-a-rush, not knowing the meaning of the concept 'wrong', creative at finding exits and 'solutions' even though it disadvantages others as long as it's not them, and barbaric attitude that's dumb and not thought through. What I sometimes forget, and perhaps the majority of Jakartans, is the life and train-of-thought and also character that we should have as Indonesians. Textbook says the Indonesian values that our forefathers left us are gotong royong (helping each other), discipline, dignity, friendly/hospitality and one brotherhood. One brotherhood / one nation. And if you noticed now, we value more our necessities and comfort just because of the situation hasn't sided with us that day. We've stained discipline and lowered the value of the law that in the long term will create a wild society that's immune towards laws and fertilizes the rule of the jungle.

I am not trying to act nationalist or be the most correct person. But I have just realized that personally, I haven't become the best, patient, or discipline Jakartan. Nor am I close to becoming an "Indonesian that holds the values of our ancestors and could become an example for other Indonesians to follow."


0 komentar:

Posting Komentar