Jumat, 05 Juni 2009

Pernah Mengalami Ini di Jakarta?

Semua diawali dengan perbincangan mengenai kasus Manohara, dimana gw dan teman-teman kantor membahas betapa dramatisnya cerita yang di ungkapkan di media. Bener atau gak-nya kasus itu gw jg gak tau karena bagi gw itu agak sedikit dramatis. Tapi gak usah jauh-jauh k Malaysia, kita pun di Jakarta pasti pernah mengalami penipuan atau kriminalitas lainnya.

Cerita itu pun memancing sebuah cerita teman gw (sebut saja NO), tentang modus penipuan yang pernah dialami adik dan mertua adiknya. Di awali dengan upaya menjual tanah milik mertuanya kepada pihak asing (kebetulan warga negara Malaysia) melalui perantara yang merupakan seorang WNI. Awalnya si perantara ini nampak seperti orang baik-baik saja, lalu dia mulai membeberkan cerita-cerita mengenai si bosnya dan perilaku serta kebiasaan-kebiasaan buruknya seperti suka mabok-mabokan, main perempuan, berjudi, dan lain-lain. Tak lama kemudian, adik si NO pun bertemu dengan sang bos dan seakan membenarkan cerita-cerita anak buahnya tersebut dengan memperlihatkan sifat-sifat itu. Ia mengatakan "maaf terlambat, tadi 'main'-nya agak lama".

Versi singkatnya, meeting itu pun berlalu dan diikuti dengan meeting berikutnya di hotel yang sama namun kali ini bertempat didalam kamar. Dan meeting tersebut diikuti oleh beberapa rekan-rekan si perantara. Bos-nya (lagi-lagi) telat hadir. Si perantara tampak lusuh dan hang-over karena di ajak mabok-mabokan oleh si bos. Ia pun menceritakan bosnya baru saja kalah taruhan sebesar Rp.300.000. Hal tersebut membuat ia gerah dan ingin memberikan pelajaran pada bosnya karena punya niat ingin bertaruh lebih banyak lagi malam ini (kira-kira sebesar Rp.1.000.000). Ia pun mengajak rekan-rekan dalam ruangan itu, serta adik NO dan mertuanya, untuk mengalahkan taruhan sang bos. Ia pun menanyakan banyaknya materi yg dimiliki oleh masing-masing orng dalam ruangan tersebut. Disaat itu lah, adiknya NO sadar bahwa ini bukan pertemuan yang sehat. Mertuanya pada saat itu berniat untuk 'menyumbangkan' harta bendanya untuk rencana mereka. Dengan susah payah, adiknya NO menyadarkan mertuanya tersebut dan lolos lah mereka dari ruangan itu.

Penipuan dan kriminalitas lain mulai dari kelas bulu hingga kelas baja juga pernah menimpa teman-teman kantor gw. Mulai dari pencopetan dalam bis, konfrontasi dengan pengamen mabok jurusan Bekasi, hipnotis dengan teknik pijit, hingga kriminalitas dengan metode "lo yang gebukin temen gw ya?!"

Gw sendiri pernah ngerasain metode "lo yang gebukin temen gw ya?", begitu pula 2 orang teman gw, namun beda lokasi dengan jarak waktu yang berjauhan. Gw waktu itu kena didaerah DBest Fatmawati, sedangkan teman-teman gw kena di Blok M. Dan metode itu ternyata masih kerap digunakan karena temen gw baru setahun yg lalu.

Masih banyak tindak kriminalitas lain yang terjadi di Jakarta, tapi mana mungkin bisa gw sebutin satu-satu.

Tips aman :
1. Jangan pernah bengong sendiri di tempat-tempat umum seperti terminal atau halte bis didaerah yang rawan atau sepi
2. Jangan terlihat sibuk dengan bawaan yang yang banyak
3. Jangan terlihat ketajiran
4. Jangan pernah ngajak ribut pengamen mabok, soalnya gak membuahkan hasil apa-apa.
5. Tetap waspada!

* * * * * * *

1 komentar:

Hihihihihi..

Metode "lo yang gebukin temen gw" itu sepertinya udah jadi cerita lama yach.. :D

Sekarang para kriminalitas udah ga pake basa-basi lagi..Tinggal todong and sikat aja..!! Ckckkkckckckckck..

Mungkin lebih aman klo kita belajar ilmu beladiri..huhuhuhuhu..Ato ga cara yang paling ampuhh.. Kaburrrrrrr..ahahahahahahaha.. :D

Posting Komentar